:: RESUME BUKU ::

:: THE ROAD TO ALLOH :: 
Pada zaman nabi musa, ada seorang pengembala yang bersemangat bebas. Dia tidak mempunyai harta sedikitpun dan yang dia miliki hanyalah hati yang lembut yang penuh keihlasan. Setiap hari dia mengembalakan ternaknya dan selalu menyapa tuhannya yang sangat dia cintai. Dalam kata – katanya “Tuhan, dimanakah engkau, supaya aku bias menjahit baju-Mu, memperbaiki kasut-Mu, mempersiapkan ranjang-Mu. Dimanakah Engkau, supaya aku bisa menyisir rambut-Mu, mencium kaki-Mu” Musa mendengar perkataan itu, dan beliaupun bertanya kepada si pengembala itu. “Dengan siapa kamu berbicara ? Pengembala itu menjawab.” Dengan Dia yang telah menciptakan kita”. Musa pun murka dengan pengembala tersebut. “Betapa beraninya kamu bicara kepada tuhan seperti itu. Apa yang kamu ucapkan adalah kekafiran”. Pengembala itu pun bangkit setelah dia tahu bahwa yang mengajak bicaranya adalah seorang nabi. Pengembala itu pun tidak mengerti apa yang dia katakan kepada tuhannya itu adalah kata – kata ynag kasar. Dia pun tidak mengerti kenapa nabi yang mulia telah memanggilnya sebagai seorang musuh. Setelah itu, dia pun berjanji akan menutup mulutnya selama – lamanya. Dengan perasaan bahagia karena telah meluruskan jiwa yang tersesat, nabi Musa pun melanjutkan perjalanannya menuju kota. Tiba – tiba, Alloh menegurnya “ mengepa engkau berdiri diantara kami dengan kekasih kami yang setia ? mengapa engkau pisahkan pecinta dengan yang dicintainya ? “. Nabi Musa pun ketakutan mendengar kata – kata itu. Dengan segera dia berlari mencari si pengembala itu untuk meminta maaf. Setelah berhari – hari dia mencari, akhirnya dia menemukan gembala itu, dia sedang duduk bertafakur di dekat mata air. Setelah menemukannya, nabi Musa pun mengatakan kepada gembala itu apa yang Alloh firmankan kepadanya. Setelah itu, mereka pun berpisah dan nabi Musa pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju kota. Cerita itu melukiskan kepada kita bahwa ada sekelompok orang yang mengambil cinta sebagai agamanya. Kalau seseorang telah meledakkan cintanya kepada tuhan, dia tidak bisa lagi menemukan kata – kata ynag tepat untuk melukiskan kecintaannya kepada Alloh SWT. Dan juga untuk mendekatkan diri kepada Alloh, harus mempunyai hati yang bersih dan tulus. Keberagaman yang tulus, keberagaman sejati Dalam kitab matsnawi, Jalaludin Rumi bercerita tentang seseorang yang mengumandangkan adzan di tengah – tengah orang kafir. Yang mana tadinya ada seorang kafir yang ingin masuk islam, tapi setelah mendengar seseorang yang mengumandangkan adzan dengan suara yang kurang bagus, dia malah tidak jadi masuk islam. Dalam cerita tersebut, Jalaludin mengajari kita sebuah cerita yang berisi parody atau sebuah sindiran yang sangat halus. Adzan yang dilantunkan dengan buruk dapat menghalangi orang untuk masuk islam. Dengan cerita itu sebenarnya Rumi ingin membedakan dua macam keberagaman atau dua macam kesalehan. Yang pertama adalah kesalehan pulasan, yaitu keberagaman seorang yang berpegang teguh pada teks – teks syari’at lalu meluapkan maksud yang sebenarny adari agama. Seperti contoh seorang tadi yang mengumandangkan adzan. Dia merasa adzannya betul – betul melaksanakan perintah agama. Karena adzan itu seperti yang disebutkan dalam hadits adalah suatu kewajiban ynag mulia. Tetapi karena yang mereka ambil hanyalah bungkusnya saja dan melupakan hakikatnya, yang terjadi hanyalah kebalikan dari apa yang dimaksudkan. Adzan di maksudkan untuk memanggil orang untuk shalat, tetapi dalam cerita tersebut adzan malah menjauhkan orang dari shalat. Keberagaman jenis pertama, keberagaman muadzin bersuara buruk, yang berpegang teguh pada teks – teks syariat dan melupakan maksud yang sebenarnya dari ajaran agama. Keberagaman kedua adalah keberagaman bayazid al bustomi. Keberagaman ini menekankan pentingnya memelihara lahiriah agama dengan tidak melupakan segi – segi batiniah dan tujuan – tujuan keberagaman itu. Inilah keimanan yang tulus. Jalaludin mengingatkan kita bahwa keberagaman yang tulus, betapapun kecilnya mampu mengubah dunia. Jadi yang kita perlukan sekarang adalah keimanan yang tulus meskipun kecil. Karena keimana yang tulus dapat menarik orang pada haribaan islam, apapun bentuknya. Pelajaran mencinta Selama ini kita diajari bahwa mencintai itu bukanlah proses pembelajaran tapi proses kecelakaan. kita mengenal istilah jatuh cinta bukan belajar mencinta. Untuk mampu mencintai Alloh, kita harus belajar dari mencintai makhluk Alloh. inilah pelajaran mencintai yang paling dasar. Cinta yang seperti ini adalah cinta yang dimiliki anak – anak kecil. Mereka selalu mencintai hal – hal yang bersifat konkret dan lahiriah. Kita harus mengembangkan kepribadian kita ke tingkat yang lebih baik agar kita tidak terjebak untuk mencintai hal – hal yang konkret saja. Dan nanti pada akhirnya kita dapat mencintai hal – hal yang bersifat abstrak. Iman Al – Ghazali mengatakan dalah kitab Ihya Ulumuddin “sebuah kebohongan besar jika seorang mencintai sesuatu, tetapi tidak memiliki kecintaan terhadap sesuatu yang berkaitan dengannya”; dalam arti bohonglah orang yang mengaku mencintai Alloh tetapi dia tidak mencintai tasulNya, Ahlul Bait, dan seluruh kaum muslimin. Yang tidak dicintai tuhan 1. Mu’tadin (orang yang melakukan sesuatu yang melewati batas) 2. Orang yang berlebihan 3. Orang orang yang dzalim 4. Orang yang sombong Intinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan mendekati Alloh sebelum kita menghilangkan hal – hal yang dibenci Alloh. Berdoa dengan bisikan cinta Doa adalah satu percakapan antara seorang hamba dengan tuhan.ketika berdoa kita memanggil tuhan, dan tuhan pun memanggil kita. Pada hakikatnya berdoa adalah saling memanggil diantara sepasang kekasih. Robiah Al – Adawiyah seorang sufi besar berdoa dengan doa yang amat terkenal. Doa indah dari Robiah telah sampai pada tingkatan cinta. Karena doa itu telah menjelma menjadi sebuah bisikan cinta, orang merasa enak dalam memanjatkannya.orang yang telah berdoa dengan tingkatan yang paling atas akan merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika dia berdoa dengan rangkaian yang amat panjang. Berlari menuju Alloh Dalam sebuah hadits qudsi, Alloh melukiskan dengan indah keadaan orang yang telah sampai dalam perjalanan mendekatiNya : ”Tidak henti – hentinya hamba – hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah – ibadah nawafil hingga aku mencintainya. Kalau Aku sudah mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, Aku akan menjadi matanya yang dengannya Aku melihat. Aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memegang. Aku akan menjadi kakinya yang dengannya Aku berjalan. Jika ia bermohon kepadaKu, Aku akan mengabulkan permohonannya. Jika ia berlindung kepadaKu, Aku akan melindungi dirinya. (H. R. Bukhori) BAGIAN II Setelah memulai perjalanan Meninggalkan perbedaan Secara sederhana, dalam semua kehidupan yang kita jalani mengajari kita untuk tidak menilai keberagaman seseorang dari pendapatnya yang bermacam – macam, tetapi dari amal shaleh yang dia lakukan. Bukankah dalam Al – Qur’an Alloh SWT berfirman : “Dan masing – masing orang memperoleh derajat yang sesuai dengan amalnya”. (Al – An’am : 132). Untuk itu, janganlah kita melihat saudara – saudara kita dari madzhab yang mereka anut, tapi marilah kita menilai mereka dari akhlaq dan amalnya. Jihad yang paling utama Rasulullah saw bersabda : “Jihad yang paling utama adalah engkau perangi hawa nafsumu, karena Alloh SWT”. Jadi pada intinya jihad yang paling besar dan yang paling utama adalah melawan hawa nafsu. Kesalehan Sejati Dalam Al – Qur’an ada sebuah lafadz yang berbunyi Al – Abror yaitu manusia – manusia suci yang telah berhasil melepaskan semua kehendak dirinya. Mereka sudah meninggalkan dan membuang semua egonya. Mereka berbuat baik semata – mata karena Alloh. Dan inilah kesalehan yang sejati. Menempuh jalan kesucian Proses pembersihan diri itu dapat dilakukan melalui berbagai hal. 1. Dengan menbaca istigfar. 2. Dengan bertaubat. 3. Dengan melakukan amal shaleh. Tasawuf, atau perjalanan menuju Alloh, harus dimulai dengan proses penyucian, apapun bentuknya. Dengan penyucian, hati kita akan mudah menyerap keindahan Asma Alloh. Sufi menurut Jalaludin Rumi adalah orang yang menyucikan dirinya. Proses Pembersihan Diri • Membaca istighfar, kita memohon ampun kepada Allah dari segala dosa. • Bertaubat, melalui taubat kita memutuskan untuk kembali ke jalan Allah. • Melakukan amal saleh, semakin banyak kita beramal saleh semakin banyak pula bagian diri kita yang disucikan. Perwujudan Amal • Pada hari kiamat nanti manusia akan datang dalam bergolongan, ada yang berbentuk monyet, babi, anjing, atau manusia dalam berbagai penampilan. • Yang menentukan bentuk manusia di hari akhir nanti adalah amal. Amal adalah benih yang kita tanam, apa yang kita tuai sangat bergantung pada apa yang kita tanam. Ridha Ilahi Sandungan pertama dalam perjalanan menuju kesucian adalah ridha dengan diri sendiri. Kita merasa sudah banyak beramal, dan karena itu berhak untuk memperoleh segala anugerah Tuhan. Untuk memperoleh ridha Allah jangan hanya mengandalkan amal kita, dan meremehkan pemberian Allah. Jadi beramal shaleh adalah salah satu cara untuk mendapatkan rodha ilahi. Bagian III Penghalang perjalanan Aku lebih baik daripada dia “Aku lebih baik daripada dia” itulah sebuah ungkapan yang dinamakan takabur. Takabur adalah salah satu sifat buruk manusia. Rasul saw. Bersabda. “Tidak akan masuk surge orang yang dalam hatinya terdapat takabur walaupun sebesar biji sawi”. Kita dapat mengobati rasa takabur dengan beristigfar dan tawadhu. Tidak ada obat bagi takabur selain rendah hati. Rekayasa Riya Kita sering terpesona oleh penampakan – penampakan lahiriah. Dan kadang kita selalu ingin berpenampilan atau berprilaku yang sangat baik dengan dalih ingin dipuji dan diperhatikan oleh orang lain. Itulah diantara rekayasa – rekayasa riya yang sering kita jumpai. Menghapus amal dengan ujub Imam Ja’far as mendefinisikan salah satu ciri orang yang melakukan ujub sebagai orang yang mengira bahwa dirinya sebagai orang yang suci yang tidak pernah berbuat salah dan melakukan dosa. Ujub adalah penyakit ruh yang membuat kita merasa diri kita ini aqidah, ibadah, dan akhlaq yang paling bagus. Orang kaya yang sering dimintai bantuan biasanya berkat “rasa – rasanya aku saja yang dimintai pertolongan. Aku telah banyak membantu orang. Apa tidak ada orang kaya selain aku ? “. Orang seperti ini telah masuk pada ujub. Mengapa kita mudah berghibah ? Diantara alasan mengapa kita mudah menghibah adalah keinginan untuk menaikan harga diri. Karena itu kita senang mempergunjingkan orang – orang yang terhormat. Dengan itu, kita seakan – akan berkata bahwa orang yang terhormat itu masih jauh lebih rendah daripada diri kita karena keburukan – keburukan mereka. Jadi, berusahalah menghentikan penggunjingan agar amal kita tidak terus terkikis sedikit demi sedikit. Diagnosis penyakit hati Tanda – tanda penyakit hati : 1. Kehilangan cinta yang tulus 2. Kehilangan ketentraman dan ketenangan batin 3. Memiliki hati dan mata yang keras 4. Kehilangan kekhusyuan dalam ibadah 5. Malas beribadah atau beramal 6. Senagn melakukan dosa Dan untuk mengobatinya menurut Al - Ghazali ada beberapa cara, diantaranya : 1. Mencari guru yang mengetahui penyakit hati kita 2. Mendapatkan sahabat yang jujur orang yang membenarkan, bukan “membenarkan” kita 3. Mempehatikan perilaku buruk orang lain dan sebisa mungkin kita berusaha agar tidak melakukan tersebu kepada orang lain Tasawuf sejati Menurut imam Ja’far tasawuf sejati bukan tidak memiliki dunia, tapi tidak dimiliki dunia. Sufi bukan berarti tidak memiliki apa – apa melainkan tidak dipunyai apa – apa. Seorang sufi boleh saja malah mungkin harus memiliki kekayaan yang banyak, tetapi ia tidak meletakkan kebahagiaan pada kekayaannya. Inilah tasawuf sejati yang diajarkan Rasul saw. BAGIAN IV Penopang perjalanan Kendali diri Kekasih Alloh bukanlah ia yang tidak pernah mendapat godaan. Kekasih Alloh adalah ia yang berhasil menepis godaan itu dengan kendali dirinya. Dan jika ia dapat mengendalikan dirinya. Dia akan merasakan bgaimana manisnya iman. Kendali nafsu Hawa hafsu sebetulnya ular naga berkepala dua, yaitu sks dan perut. Imam Ali berkata : “ jarak terjauh antara seorang hamba dengan Alloh adalah ketika urusannya hanyalah perut dan seksnya”. Menurut Al – Ghazali ada 10 faedah dari melaparkan perut kita : 1. Membersihkan hati dan menajamkan mata batin 2. melembutkan hati dan membersihkannya sehingga mampu merasakan kelezatan berzikir. 3. meluluhkan dan merendahkan hati, menghilangkan kesombongan dan keliaran jiwa. 4. mengingatkan kita pada ujian dan azab Allah. 5. mematikan keinginan untuk berbuat maksiat dan menguasai nafsu amarah (diri yang memerintahkan keburukan). 6. mengurangi tidur dan membiasakan jaga. 7. memudahkan menjalankan ibadah. 8. menyehatkan tubuh dan menolak penyakit. 9. Mengurangi mu’nah atau dengan istilah mutakhir menyembuhkan penyakit konsumerisme. 10. mempunyai peluang untuk memberikan kelebihan harta dalam membantu kaum lemah –fakir miskin dan anak-anak yatim. Membalas kebencian dengan kasih sayang Membalas keburukan dengan kebaikan merupakan salahsatu amal yang tinggi nilainya di hadapan Allah Swt. dan hal ini pun dapat membawa kita menuju jalan kesucian di hadapan Allah Swt. Berdzikirlah kamu sebanyak – banyaknya Zikir bisa diklasifikasikan berdasarkan apa yang kita baca. Menurut Abu Atha’ Al-Sukandari, zikir dapat dikelompokkan menjadi zikir yang berisi pujian kepada Allah swt, misalnya subhânallâh (Mahasuci Allah), alhamdulillâh (segala puji bagi Allah), dan lâilâha illallâh huwa allâhu akbar (tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Agung), tapi ada juga zikir yang berisi doa kepada Allah. Misalnya rabbanâ âtinâ fid dunyâ hasanah wa fil âkhirati hasanah. Zikir pun bisa berisi percakapan kita dengan Allah swt. Dalam zikir itu hanya terdapat ungkapan perasaan kita kepada Allah. Zikir seperti itu disebut Munajat. Orang yang sudah mencapai maqam tertentu, selalu berzikir dengan Munajat. Khidmat : Jalan cepat menuju tuhan Seorang murid Abul Said Abul Khair pernah berkata, “Guru, di tempat lain ada orang yang bisa terbang.” Abu Khair menjawab, “Tidak aneh. Lalat juga bisa terbang.” “Guru, di sana ada orang yang bisa berjalan di atas air,” muridnya berkata lagi. Abul Khair berkata, “Itu juga tak aneh. Katak pun bisa berjalan di atas air.” Muridnya berujar lagi, “Guru, di negeri itu ada orang yang bisa berada di beberapa tempat sekaligus.” Abul Khair menjawab, “Yang paling pintar seperti itu adalah setan. Ia bisa berada di hati jutaan manusia dalam waktu bersamaan.” Murid-muridnya bingung dan bertanya, “Kalau begitu Guru, bagaimana cara yang paling cepat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt?” Ternyata, murid-muridnya beranggapan bahwa orang yang dekat kepada Allah swt itu adalah orang yang memiliki berbagai keajaiban dan kekuatan supra natural. Abul Said Abul Khair menjawab, “Banyak jalan untuk mendekati Tuhan; sebanyak bilangan nafas para pencari Tuhan. Tetapi jalan yang paling dekat kepada Allah adalah membahagiakan orang lain di sekitarmu. Engkau berkhidmat kepada mereka.” Membersihkan hati dari hasad • Hasad ialah kebencian terhadap kenikmatan yang didapatkan orang lain dan berharap kenikmatan tersebut lenyap dari orang itu. • Orang yang amalnya banyak, tapi dalam dirinya itu masih melekat sifat hasad, maka amal-amalnya itu akan termakan oleh hasadnya itu, jika diibaratkan bagaikan kayu bakar yang habis dilalap api. • Hasad itu bisa muncul dikarenakan permusuhan, ta’azuz (menganggap diri paliing mulia dari orang lain), dan takabur. • Cara mengobatinya yaitu dengan ilmu dan amal. Arti ilmu disini adalah kita mengetahui efek-efek yang bisa diakibatkan oleh hasad tersebut. Amal yang dimaksud disini menurut Al-Ghazali adalah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perasaan dengki kita, maksudnya adalah berbuat baik terhadap orang yang kita dengki. Namun sangat sulit untuk melakukannya, tapi minimal kita harus bisa melakukanya walaupun sedikit sebagai upaya untuk meminimalisir hasad dalam hati kita. Menjauhi dosa demi kesehatan jiwa Untuk dapat mendapatkan kesehatan jiwa, kita seyogyanya meminimalisir perbuatan dosa yang kita lakukan, tentunya dengan dibarengi sifat wara’ (selalu memperhatikan apa yang diperbuat, dimakan, dan sebagainya. Dalam bahasa sunda disebut “apik”). AKHIR PERJALANAN Menghapus Akibat Dosa Disadari atau tidak, sesuatu apapun yang menimpa kita diantaranya berasal dari dosa yang kita lakukan. Namun Allah Swt. tidak serta merta membalas dosa-dosa kita tersebut, untuk itu, bersihkanlah dosa-dosa itu sekarang juga dan datanglah kepada Allah dengan penuh penyesalan dan akui segala kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Jangan merasa atas dosa besar yang telah dilakukan krena Allah Swt. karena ampunan Allah itu lebih besar daripada dosa-dosa kita. Sabda Rasulullah saw. “ada tiga dosa yang akan segera dibalas oleh Allah swt. Di dunia dan tidak akan ditangguhkan di akhirat, yaitu durhaka kepada orang tua, berbuat dzalim kepada manusia, dan tidak berterima kasih pada kebaikan orang lain” Menghindari Suul Khatimah Sebagai upaya untuk menghindari suul khatimal yaitu dengan mensucikan diri. Penyucian ini harus dilakukan secara terus menerus agar kita tidak terjatuh pada dosa yang sama di kemudian hari. Menjahit Satin Kehidupan Tak jarang kita tidak menyadari bahwa kita sedang dimabuk cerita dunia dan tanpa disadari pula waktu pun menggunting satin kehidupan kita. Kisah suka dan duka tak lain adalah permainan dunia. Jangan sampai kita melupakan tujuan kita hidup di dunia ini, yaitu untuk beribadah pada Allah. Oleh karena itu, mari kita selamatkan satin kehidupan kita dengan menjahit jubah amal saleh dalam kehidupan kita. Mencintai Tuhan Tanpa Pamrih Ibadah yang sebenarnya adalah ibadah karena cinta, itulah ibadah orang-orang merdeka. Tasawuf merupakan ilmu yang memfokuskan untuk beribadah pada Allah dengan penuh kecintaan. Namun, sebelum kita belajar tasawuf kita dianjurkan untuk belajar fikih, seperti gerakan-gerakan dalam shalat dan adab-adaban dalam melakukan ibadah lainnya. Tasawuf pada intinya berusaha mendekatkan diri pada Allah Swt. Untuk mendekati Allah Swt., hendaknya dengan akhlak yang baik.

0 Response to ":: RESUME BUKU ::"

Posting Komentar