MAKALAH MAHABBAH

Berangkatlah, jangan berlambat-lambat... Bergerak maju adalah bergerak menuju kesempurnaan… Berangkatlah, jangan takut pada duri dan batu tajam sepanjang perjalanan kehidupan…… Jalan yang tengah kita tempuh kini Adalah arah menuju mimpi yang sempurna… Bukanlah taqdir yang sengaja diminta Melainkan keputusan Nya yang menjadikan kita bahagia…. Terkadang terfikir bahwa rencana kita begitu Indah Namun ternyata ketentuan Nya yang menjadikan Berkah Hidup kita tampak begitu sempurna Tapi hidup bersama Nya Luar Biasa…… Apapun yang kan terjadi kelak,, Semuanya adalah tanggung jawab kita Ingatlah Dia di setiap langkah kehidupan Niscaya jidup akan lebih berharga….. Walaupun hanya coretan tinta yang sederhana Makalah ini saya persembahkan untuk Keluarga Saya tercinta yang kekal dalam nafas saya, Untuk dia, Pangeran yang senantiasa ada disetiap sudut relung hati saya, Untuk sahabat seperjuangan tersayang yang selalu berusaha tak kenal lelah, dan untuk para Muslimin dan muslimat yang merindukan ilmu yang Bermanfaat untuk hidup dan kehidupan. ABSTRAKSI Mahabbah berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang secara harfiah berarti mencintai secara mendalam. Dalam mu’jam al-falsafi, Jamil Shaliba mengatakan mahabbah adalah lawan dari al-baghd, yakni cinta lawan dari benci. Al mahabbah dapat pula berarti al wadud yakni yang sangat kasih atau penyayang. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berarti suatu usaha sungguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang Mutlak, yaitu cinta kepada Tuhan. Kata mahabbah selanjutnya digunakan untuk menunjukkan pada suatu paham atau aliran dalam tasawwuf yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhaniah pada Tuhan. Pengertian mahabbah dari segi tasawwuf ini lebih lanjut dikemukakan al Qusyairi sebagai berikut: “almahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakkan) Allah swt oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasihi-Nya dan yang seorang hamba mencintai Allah swt”. Harun Nasution mengatakan mahabbah adalah cinta yang dimaksud adalah cinta kepada Tuhan Sebenar-benarnya mahabbah adalah kecintaan pada Sang Maha Pencipta Alloh SWT. Sesungguhnya hanya dia yang patut dicintai secara berlebihan sekalipun. Ketika kita merasa dimiliki Tuhan, maka kita akan merasakan bagaimana konsep cinta sejati yang sesungguhnya. Karena mahabbah yang dimaksud adalah konsep cinta yang sebenar-benarnya, cinta sejati pada Alloh Sang Maha Menciptakan. Alloh yang menghadirkan cinta dalam hati manusia, maka hanya Alloh pula yang berhak dicintai dengan sejati. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt atas segala nikmat-Nya yang tiada ternilai. Semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw yang diutus Allah untuk membawa dienul islam bagi seluruh ummat manusia disetiap penjuru dunia. Untuk mengeluarkan mereka dari kesesatan, kepada petunjuk, dan menuntun mereka dari kegelapan menuju cahaya. Allah swt memilih ummat islam untuk menjadi ummat terbaik yang diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia. Dengan ajaran yang diwahyukan kepada nabi-Nya, berupa kitab suci, yang tiada keraguan padanya, menjadi petunjuk, dan pedoman bagi manusia. “Kamu umat islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan dari mereka adalah orang-orang fasik.” Alhamdulillah, karena rahmat, dan kasih sayang-Nya, kami masih diberi kesempatan usia untuk menyelesaikan urusan yang memberi keselamatan kepada kami untuk kehidupan dunia, dan memberi kebaikan untuk kehidupan akhirat. Amien…. Walaupun hanya coretan tinta yang sederhana, semoga mengandung makna yang dapat dimengerti dan dipahami oleh pembimbing dan pembaca, dalam kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih pada: 1. Allah SWT yang telah meridhai dan telah memberi segalanya pada penulis waktu, kesempatan, rizki, ilmu, dan segala nikmat yang terindah, yang tak akan mungkin terbalaskan. Allah SWT Engkau, Rabb-ku Yang Maha Sempurna, Sang Pecinta Sejati. 2. Ibunda dan ayahanda tercinta, serta saudara-saudara penulis yang takkan pernah merasa bosan dan lelah memberikan doa, support, dan bantuan materialnya selalu menyertai penulis, serta senantiasa membimbing penulis untuk terus maju kedepan dengan menjaga kehidupan penulis untuk selalu berjalan dalam koridor yang Allah SWT ridhoi. “Mudah-mudahan keluarga kecil kita dipertemukan dan dipersatukan Allah SWT di dunia dan di surga-Nya kelak, Amien…” Thanks, my breath…. 3. Ibu Gina Gifta. selaku Dosen dari mata kuliah Ilmu Akhlaq Tasawuf, sesosok pahlawan yang senantias mengerti dan memperhatikan keadaan penulis, membimbing dalam tholabul ‘ilmi. “kebaikan itu tak dapat penulis balas dengan yang lebih, namun selalu penulis memohon kebaikan untuk engkau dari Allah SWT..” 4. Pangeran hati yang selalu berada dalam semangat dan memberi motivasi kepada penulis, sosok sederhana yang senantiasa memberi kesejukan pada cinta dan kasih sayang. Gamsahabnida Nae Sarang, My Destiny Habiby Qolby. 5. Teman-teman seperjuangan yang bersama tengah memperjuangkan masa depan di tempat yang sempurna pada kesempatan yang terindah. GANBATTE,,,!!! 6. Kepada seluruh pihak yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu, terima kasih atas segala bentuk dukungannya, kebaikannya, dan do’anya…. Thanks ^_^..!!! Akhirnya hanya pada Allah aku memohon keridlhoan, semoga tulisan ini dapat bermanfaat, mohon maaf atas kealfaan yang telah dibuat, apabila dalam penulisan banyak kata yang kurang tersusun dengan rapi, semoga tidak mengurangi (qiroh) atau semangat untuk membacanya. Bandung, Maret 2013 Penulis DAFTAR ISI LEMBAR PERSEMBAHAN i ABSTRAKSI ii KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI vi BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Masalah 1 1.2 Perumusan Masalah 1 1.3 Tujuan Penulisan 2 1.4 Metode Penelitian 2 1.5 Sistematika Penulisan 3 BAB II PEMBAHASAN 4 2.1 Dasar-dasar Ajaran Mahabbah……………………………………......4 2.2 Rabi’ah Al-Adawiyah: Perintis Tasawuf Cinta 11 2.3 Doktrin-Doktrin Mahabbah……………………………………………12 2.4 Pengaruh Doktrin Mahabbah………………………………………….15 BAB III PENUTUP 16 3.1 Kesimpulan 16 3.2 Saran 17 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………..18 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Ajaran cinta kasih ternyata tidak hanya milik agama Kristen saja. Nabi Muhammad sendiri –yang notabene pembawa agama Islam– diutus oleh Allah untuk membawa misi sebagai kasih sayang bagi alam semesta (rahmah lil ‘alamin). Lebih jauh lagi, tasawuf sebagai salah satu bentuk pemahaman dalam Islam telah memperkenalkan betapa ajaran cinta (mahabbah)menempati kedudukan yang tinggi. Hal itu terlihat dari bagaimana para ulama sufi, seperti al-Ghazali, menempatkan mahabbah sebagai salah satu tingkatan puncak yang harus dilalui para sufi. Wajah sejuk dan teduh tasawuf yang mendedahkan cinta, dari dulu sejak zaman Rabi’ah al-Adawiyah hingga di zaman modern sekarang, tak pelak menarik orang-orang yang tertarik dengan pencarian kebahagiaan dan kebenaran hakiki. Apalagi di zaman modern sekarang ketika alienasi sosial begitu banyak terjadi, terutama di masyarakat Barat. Alienasi tersebut terjadi di antaranya karena kemajuan material ternyata banyak mengorbankan penderitaan spiritual. Kemudahan-kemudahan hidup yang dihasilkan oleh kemajuan teknologi modern membuat banyak orang jadi mengabaikan ruang rohani dalam dirinya. 1.2 PERUMUSAN MASALAH Study Tentang Kajian Persoalan Ilmu Tasawuf Tentang Konsep Mahabbah. Sesuai dengan judul Karya Tulis ini, maka penulis menentukan beberapa masalah yang akan dibahas di dalamnya, diantaranya meliputi: a. Apa Saja Dasar Ajaran Mahabbah.? b. Siapa Perintis Konsep Mahabbah.?. c. Apa Saja Doktrin Konsep Mahabbah? d. Bagaimana Pengaruh Doktrin Mahabbah.? 1.3 TUJUAN PENULISAN Selain untuk memenuhi syarat kelengkapan Tugas Terstruktur untuk mata kuliah Ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, penulis menyusun Karya Tulis ini ditujukan untuk menjawab masalah-masalah yang terdapat dalam perumusan masalah, yaitu: a. Untuk Mengetahui Apa Saja Dasar Ajaran Mahabbah. b. Untuk Mengetahui Siapa Perintis Konsep Mahabbah. c. Untuk Mengetahui Apa Saja Doktrin Konsep Mahabbah. d. Untuk Mengetahui Bagaimana Pengaruh Doktrin Mahabbah. 1.4 METODE PENELITIAN Dalam menyusun Karya Tulis ini penulis menggunakan metode “Library Research” (penelitian kepustakaan). Tekhnik ini merupakan suatu cara untuk menjelaskan permasalahan yang akan penulis bahas dalam Karya Tulis. Dalam tekhnik library research, penulis juga dapat mengumpulkan data-data yang akurat, pendapat-pendapat para ahli, teori-teori, dalil-dalil, dan hukum-hukum yang berkaitan dengan Karya Tulis serta doktrin dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain itu, penulis juga menggunakan metode “Deskriptif Argument” yaitu tekhnik ini merupakan suatu gambaran bagi penulis untuk menyelesaikan Karya Tulis, sehingga terkumpulnya sejarah, dan arsip-arsip kejadian di masa lampau. 1.5 SISTEMATIKA PENULISAN Karya Tulis yang berjudul “Kajian Persoalan Ilmu Tasawuf Tentang Konsep Mahabbah”. Memiliki beberapa bab di antaranya, yaitu: Bab I, Pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II, Pembahasan terdiri dari: a. Dasar-dasar Ajaran Mahabbah, b. Rabi’ah Al-Adawiyah: Perintis Tasawuf Cinta, c. Doktrin-Doktrin Mahabbah, d. Pengaruh Doktrin Mahabbah. Bab III, Penutup terdiri dari: kesimpulan dan saran. BAB II PEMBAHASAN 2.1 DASAR-DASAR AJARAN MAHABBAH 1. Dasar Syara’ Ajaran mahabbah memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Alquran maupun Sunah Nabi SAW. Hal ini juga menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta khususnya dan tasawuf umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur kebudayaan asing atau agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan orientalis. a. Dalil-dalil dalam al-Qur’an, misalnya sebagai berikut: 1) QS. Al-Baqarah ayat 165 Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cinta mereka kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). 2) QS. Al-Maidah ayat 54 Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. 3) QS. Ali Imran ayat 31 Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. b. Dalil-dalil dalam hadis Nabi Muhammad SAW, misalnya sebagai berikut: ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ اْلإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَاوَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ ِللهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَفِي النَّارِ Tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: pertama Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; kedua: tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah; ketiga benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka. ….. وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُالَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا… ….Tidaklah seorang hamba-Ku senantiasa mendekati-Ku dengan ibadah-ibadah sunah kecuali Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat; menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul; dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. … لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين Tidak beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia. 2. Dasar Filosofis Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis ajaran tentang cinta(mahabbah) ini, al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya, yaitu sebagai berikut: a. Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak) Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahui dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia. b. Cinta terwujud sesuai dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan Semakin intens pengenalan dan semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar peluang obyek itu untuk dicintai. Selanjutnya, jika semakin besar kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh dari obyek yang dicintai, maka semakin besar pula cinta terhadap obyek yang dicintai tersebut. Kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa dirasakan manusia melalui pancaindranya. Kenikmatan dan kebahagiaan seperti ini juga dirasakan oleh binatang. Namun ada lagi kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui pancaindra, namun melalui mata hati. Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh lebih kuat daripada kenikmatan lahiriah yang dirasakan oleh pancaindra. Dalam konteks inilah, cinta terhadap Tuhan terwujud. c. Manusia tentu mencintai dirinya Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kecenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya. Selanjutnya al-Ghazali juga menguraikan lebih jauh tentang hal-hal yang menyebabkan tumbuhnya cinta. Pada gilirannya, sebab-sebab tersebut akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta kepada Tuhan Yang Maha Mencintai. Sebab-sebab itu adalah sebagai berikut: a. Cinta kepada diri sendiri, kekekalan, kesempurnaan, dan keberlangsungan hidup Orang yang mengenal diri dan Tuhannya tentu ia pun mengenal bahwa sesungguhnya ia tidak memiliki diri pribadinya. Eksistensi dan kesempurnaan dirinya adalah tergantung kepada Tuhan yang menciptakannya. Jika seseorang mencintai dirinya dan kelangsungan hidupnya, kemudian menyadari bahwa diri dan hidupnya dihasilkan oleh pihak lain, maka tak pelak ia pun akan mencintai pihak lain tersebut. Saat ia mengenal bahwa pihak lain itu adalah Tuhan Yang Maha Pencipta, maka cinta kepada Tuhan pun akan tumbuh. Semakin dalam ia mengenal Tuhannya, maka semakin dalam pula cintanya kepada Tuhan. b. Cinta kepada orang yang berbuat baik Pada galibnya, setiap orang yang berbuat tentu akan disukai oleh orang lain. Hal ini merupakan watak alamiah manusia untuk menyukai kebaikan dan membenci kejahatan. Namun pada dataran manusia dan makhluk umumnya, pada hakikatnya kebaikan adalah sesuatu yang nisbi. Karena sesungguhnya, setiap kebaikan yang dilaksanakan oleh seseorang hanyalah sekedar menggerakkan motif tertentu, baik motif duniawi maupun motif ukhrawi. Untuk motif duniawi, hal itu adalah jelas bahwa kebaikan yang dilakukan tidaklah ikhlas. Namun untuk motif ukhrawi, maka kebaikan yang dilakukan juga tidak ikhlas, karena masih mengharapkan pahala, surga, dan seterusnya. Pada hakikatnya, ketika seseorang memiliki motif ukhrawi atau agama, maka hal itu juga akan mengantarkan kepada pemahaman bahwa Allah jugalah yang berkuasa menanamkan ketaatan dan pengertian dalam diri dan hatinya untuk melakukan kebaikan sebagaimana yang Allah perintahkan. Dengan kata lain, orang yang berbuat baik tersebut pada hakikatnya juga terpaksa, bukan betul-betul mandiri, karena masih berdasarkan perintah Allah. Ketika kesadaran bahwa semua kebaikan berujung kepada Allah, maka cinta kepada kebaikan pun berujung kepada Allah. Hanya Allah yang memberikan kebaikan kepada makhluk-Nya tanpa pamrih apapun. Allah berbuat baik kepada makhluk-Nya bukan agar Ia disembah. Allah Maha Kuasa dan Maha Suci dari berbagai pamrih. Bahkan meskipun seluruh makhluk menentang-Nya, kebaikan Allah kepada para makhluk tetap diberikan. Kebaikan-kebaikan Allah kepada makhluk-Nya itu sangat banyak dan tidak akan mampu oleh siapa pun. Karena itulah, pada gilirannya bagi orang yang betul-betul arif, akan timbul cinta kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Baik, yang memberikan berbagai kebaikan dan kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya. c. Mencintai diri orang yang berbuat baik meskipun kebaikannya tidak dirasakan Mencintai kebaikan per se juga merupakan watak dasar manusia. Ketika seseorang mengetahui bahwa ada orang yang berbuat baik, maka ia pun akan menyukai orang yang berbuat baik tersebut, meskipun kebaikannya tidak dirasakannya langsung. Seorang penguasa yang baik dan adil, tentu akan disukai rakyatnya, meskipun si rakyat jelata tidak pernah menerima langsung kebaikan sang penguasa. Sebaiknya, seorang pejabat yang lalim dan korup, tentu akan dibenci oleh rakyat, meski sang rakyat tidak mengalami langsung kelaliman dan korupsi sang pejabat. Hal ini pun pada gilirannya akan mengantar kepada cinta terhadap Allah. Karena bagaimanapun, hanya karena kebaikan Allah tercipta alam semesta ini. Meski seseorang mungkin tidak langsung merasakannya, kebaikan Allah yang menciptakan seluruh alam semesta ini menunjukkan bahwa Allah memang pantas untuk dicintai. d. Cinta kepada setiap keindahan Segala yang indah tentu disukai, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah. Lagu yang indah dirasakan oleh telinga. Wajah yang cantik diserap oleh mata. Namun keindahan sifat dan perilaku serta kedalaman ilmu, juga membuat seorang Imam Syafi’i, misalnya, dicintai oleh banyak orang. Meskipun mereka tidak tahu apakah wajah dan penampilan Imam Syafi’i betul-betul menarik atau tidak. Keindahan yang terakhir inilah yang merupakan keindahan batiniah. Keindahan yang bersifat batiniah inilah yang lebih kuat daripada keindahan yang bersifat lahiriah. Keindahan fisik dan lahiriah bisa rusak dan sirna, namun keindahan batiniah relatif lebih kekal. Pada gilirannya, segala keindahan itu pun akan berujung pada keindahan Tuhan yang sempurna. Namun keindahan Tuhan adalah keindahan rohaniah yang hanya dapat dirasakan oleh mata hati dan cahaya batin. Orang yang betul-betul menyadari betapa Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan segala sifat kesempurnaan melekat dalam Zat-Nya, maka tak ayal ia pun akan menyadari betapa indahnya Tuhan, sehingga sangat pantas Tuhan untuk dicintai. e. Kesesuaian dan keserasian Jika sesuatu menyerupai sesuatu yang lain, maka akan timbul ketertarikan antara keduanya. Seorang anak kecil cenderung lebih bisa akrab bergaul dengan sesama anak kecil. Seorang dosen tentu akan mudah berteman dengan sesama dosen daripada dengan seorang tukang becak. Ketika dua orang sudah saling mengenal dengan baik, maka tentu terdapat kesesuaian antara keduanya. Berangkat dari kesesuaian dan keserasian inilah akhirnya muncul cinta. Sebaliknya, jika dua orang tidak saling mengenal, kemungkinan besar karena memang terdapat perbedaan dan ketidakcocokan antara keduanya. Karena ketidakcocokan dan perbedaan pula akan muncul tidak suka atau bahkan benci. Dalam konteks kesesuaian dan keserasian inilah, cinta kepada Tuhan akan muncul. Meski demikian, kesesuaian yang dimaksud ini bukanlah bersifat lahiriah seperti yang diuraikan di atas, namun kesesuaian batiniah. Sebagian hal tentang kesesuaian batiniah ini merupakan misteri dalam dunia tasawuf yang menurut al-Ghazali tidak boleh diungkapkan secara terbuka. Sedangkan sebagian lagi boleh diungkapkan, seperti bahwa seorang hamba boleh mendekatkan diri kepada Tuhan dengan meniru sifat-sifat Tuhan yang mulia, misalnya ilmu, kebenaran, kebaikan, dan lain-lain. Terkait dengan sebab keserasian dan kecocokan ini, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa Allah tidak akan pernah ada yang mampu menandingi atau menyerupainya. Keserasian yang terdapat dalam jiwa orang-orang tertentu yang dipilih oleh Allah, sehingga ia mampu mencintai Allah dengan sepenuh hati, hanyalah dalam arti metaforis (majazi). Keserasian tersebut adalah wilayah misteri yang hanya diketahui oleh orang-orang yang betul-betul mengalami cinta ilahiah. 2.2 RABI’AH AL-ADAWIYAH: PERINTIS TASAWUF CINTA Sosok sufi perempuan ini sangat dikenal dalam dunia tasawuf. Ia hidup di abad kedua Hijriah, dan meninggal pada tahun 185 H. Meski ia hidup di Bashrah sebagai seorang hamba sahaya dari keluarga Atiq, hal itu tidak menghalanginya tumbuh menjadi seorang sufi yang disegani di zamannya, bahkan hingga di zaman modern sekarang ini. Corak tasawuf Rabi’ah yang begitu menonjolkan cinta kepada Tuhan tanpa pamrih apapun merupakan suatu corak tasawuf yang baru di zamannya. Pada saat itu, tasawuf lebih didominasi corak kehidupan zuhud (asketisme) yang sebelumnya dikembangkan oleh Hasan al-Bashri yang mendasarkan ajarannya pada rasa takut (khauf) kepada Allah. Corak tasawuf yang dikembangkan oleh Rabi’ah tersebut kelak membuatnya begitu dikenal dan menduduki posisi penting dalam dunia tasawuf. Sedemikian tulusnya cinta kepada Allah yang dikembangkan oleh Rabi’ah, bisa dilihat, misalnya, dalam sebuah munajat yang ia panjatkan:“Tuhanku, sekiranya aku beribadah kepada-Mu karena takut neraka-Mu, biarlah diriku terbakar api jahanam. Dan sekiranya aku beribadah kepada-u karena mengharap surga-Mu, jauhkan aku darinya. Tapi, sekiranya aku beribadah kepada-Mu hanya semata cinta kepada-Mu, Tuhanku, janganlah Kauhalangi aku melihat keindahan-Mu yang abadi.” Saking besar dan tulusnya cinta Rabi’ah kepada Allah, maka seolah cintanya telah memenuhi seluruh kalbunya. Tak ada lagi tersisa ruang di hatinya untuk mencintai selain Allah, bahkan kepada Nabi Muhammad sekalipun. Pun, tak ada ruang lagi di kalbunya untuk membenci apapun, bahkan kepada setan sekalipun. Seluruh hatinya telah penuh dengan cinta kepada Tuhan semata. Hal ini juga Rabi’ah tunjukkan dengan memutuskan untuk tidak menikah sepanjang hidupnya, karena ia menganggap seluruh diri dan hidupnya hanya untuk Allah semata. 2.3 DOKTRIN-DOKTRIN MAHABBAH 1. Makna Cinta di Kalangan Sufi Dalam tasawuf, konsep cinta (mahabbah) lebih dimaksudkan sebagai bentuk cinta kepada Tuhan. Meski demikian, cinta kepada Tuhan juga akan melahirkan bentuk kasih sayang kepada sesama, bahkan kepada seluruh alam semesta. Hal ini bisa dilacak pada dalil-dalil syara’, baik dalam Alquran maupun hadis yang menunjukkan tentang persoalan cinta. Sebagian dalil tersebut telah disebutkan pada bagian sebelumnya dalam makalah ini. Secara terminologis, sebagaimana dikatakan al-Ghazali, cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan rindu. Sedangkan sebaliknya, benci adalah kecenderungan untuk menghindari sesuatu yang menyakiti. Apabila kecenderungan untuk menghindari itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan dendam. Menurut Abu Yazid al-Busthami mengatakan bahwa cinta adalah menganggap sedikit milikmu yang sedikit dan menganggap banyak milik Dzat yang kau cintai. Sementara Sahl bin Abdullah al-Tustari menyatakan bahwa cinta adalah melakukan tindak-tanduk ketaatan dan menghindari tindak-tanduk kedurhakaan. Bagi al-Junaid, cinta adalah kecenderungan hati. Artinya, kecenderungan hati seseorang kepada Allah dan segala milik-Nya tanpa rasa beban. 2. Cinta Sejati adalah Cinta kepada Allah Bagi al-Ghazali, orang yang mencintai selain Allah, tapi cintanya tidak disandarkan kepada Allah, maka hal itu karena kebodohan dan kepicikan orang tersebut dalam mengenal Allah. Cinta kepada Rasulullah SAW, misalnya adalah sesuatu yang terpuji karena cinta tersebut merupakan manifestasi cinta kepada Allah. Hal itu karena Rasulullah adalah orang yang dicintai Allah. Dengan demikian, mencintai orang yang dicintai oleh Allah, berarti juga mencintai Allah itu sendiri. Begitu pula semua bentuk cinta yang ada. Semuanya berpulang kepada cinta terhadap Allah. Jika sudah dipahami dan disadari dengan baik lima sebab timbulnya cinta yang telah diuraikan al-Ghazali sebelumnya, maka juga bisa disadari bahwa hanya Allah yang mampu mengumpulkan sekaligus kelima faktor penyebab cinta tersebut. Kelima faktor penyebab tersebut terjadi pada diri manusia hanyalah bersifat metaforis (majazi), dan bukanlah hakiki. Hanya Allah Yang Maha Sempurna. Ia tidak bergantung kepada apapun dan siapa pun. Kesempurnaan itulah yang akan mengantarkan seseorang kepada cinta sejati, yaitu cinta terhadap Allah. 3. Mahabbah: antara Maqam dan Hal Sebagaimana diketahui, dalam terminologi tasawuf ada istilah maqam (tingkatan) dan hal (keadaan, kondisi kejiwaan). Menurut as-Sarraj ath-Thusi dalam kitabnya al-Luma’, maqam merujuk kepada tingkatan seorang hamba di depan Tuhan pada suatu tingkat yang ia ditempatkan di dalamnya, berupa ibadah, mujahadah, riyadhah, dan keterputusan (inqitha’)kepada Allah. Sedangkan hal adalah apa yang terdapat di dalam jiwa atau sesuatu keadaan yang ditempati oleh hati. Sementara menurut al-Junaid,hal adalah suatu “tempat” yang berada di dalam jiwa dan tidak statis. Menurut al-Ghazali, cinta kepada Allah (mahabbah) merupakan tingkatan (maqam) puncak dari rangkaian tingkatan dalam tasawuf. Tak ada lagi tingkatan setelah mahabbah selain hanya sekedar efek sampingnya saja, seperti rindu (syauq), mesra (uns), rela (ridla), dan sifat-sifat lain yang serupa. Di samping itu, tidak ada satu tingkatan pun sebelum mahabbahselain hanya sekedar pendahuluan atau pengantar menuju ke arahmahabbah, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain-lain. Cinta sebagaimaqam ini juga diamini oleh Ibn Arabi. Menurutnya, cinta merupakanmaqam ilahi. Berbeda dengan al-Ghazali, menurut al-Qusyairi, mahabbah merupakan termasuk hal. Bagi al-Qusyairi, cinta kepada Tuhan (mahabbah) merupakan suatu keadaan yang mulia saat Tuhan bersaksi untuk sang hamba atas keadaannya tersebut. Tuhan memberitahukan tentang cinta-Nya kepada sang hamba. Dengan demikian, Tuhan disifati sebagai yang mencintai sang hamba. Selanjutnya, sang hamba pun disifati sebagai yang mencintai Tuhan. 4. Tingkatan Cinta Dilihat dari segi orangnya, menurut Abu Nashr ath-Thusi, cinta kepada Tuhan terbagi menjadi tiga macam cinta. Pertama, cinta orang-orang awam. Cina seperti ini muncul karena kebaikan dan kasih sayang Tuhan kepada mereka. Ciri-ciri cinta ini adalah ketulusan dan keteringatan(zikir) yang terus-menerus. Karena jika orang mencintai sesuatu, maka ia pun akan sering mengingat dan menyebutnya. Kedua, cinta orang-orang yang shadiq dan mutahaqqiq. Cinta mereka ini timbul karena penglihatan mata hati mereka terhadap kekayaan, keagungan, kebesaran, pengetahuan dan kekuasaan Tuhan. Ciri-ciri cinta ini adalah “terkoyaknya tabir” dan “tersingkapnya rahasia” Tuhan. Selain itu, ciri lain adalah lenyapnya kehendak serta hilangnya semua sifat (kemanusiaan dan keinginan duniawi). Ketiga, cinta orang-orang shiddiq dan arif. Cinta macam ini timbul dari penglihatan dan pengenalan mereka terhadap ke-qadim-an Cinta Tuhan tanpa sebab (illat) apapun. Menurut Zunnun al-Mishri, sifat cinta ini adalah terputusnya cinta dari hati dan tubuh sehingga cinta tidak lagi bersemayam di dalamnya, namun yang bersemayam hanyalah segala sesuatu dengan dan untuk Allah. Sedangkan menurut Abu Ya’qub as-Susi, cirinya alah berpaling dari cinta menuju kepada Yang Dicintai. Sementara al-Junaid menambahkan bahwa ciri cinta macam ini adalah meleburnya sifat-sifat Yang Dicintai kepada yang mencintai sebagai pengganti sifat-sifatnya. 2.4 PENGARUH DOKTRIN MAHABBAH Semenjak Rabi’ah al-Adawiyah mengungkapkan corak tasawuf melalui puisi, prosa, atau dialognya, ajaran cinta ilahi (mahabbah) pun mulai menjadi tema menarik di kalangan tasawuf. Gambaran tentang Tuhan pun tidak lagi begitu menakutkan seperti sebelumnya. Tuhan seolah menjadi lebih dekat dan lebih “manusiawi”. Pada perkembangan tasawuf selanjutnya, mahabbah selalu menjadi tema yang mendapat pembahasan secara khusus. Para sufi pun banyak yang membahas lebih mendalam tentang tema ini dalam karya-karya mereka, seperti al-Hujwairi dengan Kasyf al-Mahjub, ath-Thusi dengan al-Luma’, al-Qusyairi dengan ar-Risalah al-Qusyairiyyah, al-Ghazali dengan Ihya Ulumiddin, Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyah, dan lain-lain. Pada bidang puisi, banyak para sufi yang juga sekaligus penyair yang kemudian menyenandung cinta ilahi, seperti Abu Sa’id bin Abi al-Khair, al-Jilli, Ibnu al-Faridh, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Hingga sekarang, para penyair sufi kontemporer masih banyak yang menyenandungkan puisi-puisi cinta ilahi, seperti Syekh Fattah yang membentuk kelompok musik Debu yang kini ada di Indonesia. BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Ajaran cinta ilahi yang dikumandangkan oleh tasawuf sebenarnya bisa dijadikan sarana kita untuk lebih memperhalus jiwa. Kehalusan jiwa yag dihasilkan oleh tasawuf ini diperlukan agar agama tidak selalu dipahami secara legal-formalistik belaka yang biasanya ditampilkan oleh kalangan ahli fikih. Dengan demikian, agama pun diharapkan bisa menjadi berwajah toleran, humanis, dan menerima realitas pluralistik yang ada di tengah di masyarakat, seperti puisi yang didengungkan oleh Ibnu Arabi di awal makalah. Meski demikian, ajaran cinta dalam Alquran sendiri, juga menghendaki keseimbangan antara sisi individual dan sosial; antara emosional dan rasional. Dari penelitian yang pernah dilakukan penulis, term-term cinta yang ditampilkan Alquran justru bersifat dinamis dan menghendaki aktualisasi riil dalam realitas sosial. Cinta dalam Alquran hampir selalu ditempatkan dalam konteks untuk mewujudkan kebaikan dan keadilan sosial. Karena itu tidaklah mengherankan jika di akhir abad 19 hingga awal abad 20, beberapa kelompok sufi di Afrika Utara menjadi pendorong perlawanan terhadap penjajahan Barat. 3.2 SARAN 1. Kepada Pembaca a. Pembaca dapat memahami esensi dari karya tulis yang berjudul “Kajian Persoalan Ilmu Tasawuf Tentang Konsep Mahabbah” b. Pembaca dapat menjadikan karya tulis ini sebagai dasar untuk menciptakn karya tulis yang lebik baik. c. Pembaca diharapkan dapat termotivasi untuk lebih bersungguh-sungguh dalam mengembangkan intelektual. d. Pembaca diharapkan dapat lebih memahami dan menyadari bahwa al-Qur’an adalah sumber dari segala ilmu yang Allah SWT jadikan petunjuk bagi kita untuk menjalani kehidupan. e. Pembaca diharapkan bisa lebih bisa mensyukuri nikmat degan ilmu yang Allah SWT ukir dalam kitab suci al-Qur’an. 2. Kepada Para Ahli Sains dan Penalaah al-Qur’an a. Menjadikan sains sebagai ilmu pelengkap terhadap ilmu yang diturunkan Allah SWT dalam al-Qur’an. b. Tidak bosan untuk tetap mempelajari dan mengkaji ilmu apapun yang dianggap maslahat bagi semua orang, dan kemajuan Islam sebagai agama yang diridloi Allah SWT. c. Menjadikan ilmu sains sebagai pembuktian secara empirik terhadap ilmu yang ada dalam al-Qur’an. d. Menjadikan sains sebagai lahan dakwah yang dipadukan dengan al-Qur’an sebagai dasar dan petunjuk keimanan yang sengaja diturunkan Allah SWT sebagai pedoman untuk kehidupan. e. Menjadi lebih termotivasi dalam menghafal mengkaji, dan mengamalkan al-Qur’an dan menjadikanya Pedoman utama bagi hidup.  DAFTAR PUSTAKA Abdurrasyid Ridha, Memasuki Makna Cinta, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003). Abu al-Qasim al-Qusyari, ar-Risalah al-Qusyairiyyah, (format e-book dalam Program Syamilah). Abu al-Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, Suatu Pengantar tentang Tasawuf, terj. Ahmad Rofi’ Utsmani, (Bandung: Pustaka, 1985). Abu Bakr Muhammad al-Kalabadzi, at-Ta’arruf li Mazhab Ahl at-Tashawwuf, (tk.: Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969). Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulumiddin,(Beirut, Dar al-Ma’rifah, tt). Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi, al-Luma’, (Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah, 1960). Al-Hujwairi, Kasyful Mahjub, terj. Suwardjo Muthary dan Abdul Hadi WM, (Bandung: Mizan, 1993). Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973). Ibn al-Mulqin, Thabaqat al-Auliya, (format e-book Program al-Maktabah asy-Syamilah) Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, al-Jami’ as-Shahih al-Mukhtashar, ed. Mushtafa Dib al-Biqha, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987). Muhyiddin Ibnu Arabi, al-Futuhat al-Makkiyah, (format e-bookdalam Program Syamilah). ______, Dzakhair al-A’laq Syarh Tarjuman al-Asywaq, seperti dikutip oleh Syamsuddin Arif, “Ibnu Arabi dan Pluralisme” dalam http://www.hidayatullah.com Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahih Muslim, ed. Muhammad Fuad Abd al-Baqi, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tt).

0 Response to "MAKALAH MAHABBAH"

Posting Komentar